Sabtu, 29 November 2014

Kebun Raya Bogor


Setelah mampir "sejenak" di Taman Budaya Sentul, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Pas banget, sampai di kota Bogor, hujan turun ruar biasa lebat. Akhirnya kami berhenti di sisi Kebun Raya, berharap hujan reda.





Tidak lama memang, sekitar dua puluh menitan hujan berkurang, tidak reda, hanya gerimis saja. Kami memutuskan masuk ke KRB, di loket masuk petugas sudah memberi peringatan, jangan masuk terlalu jauh, dikuatirkan ada pohon tumbang akibat hujan deras tadi. Dari nada dan cara bicaranya, sebenarnya sudah terkesan bahwa kami dilarang masuk. Namun karena saya bilang ke petugas itu, bahwa kami hanya mau ke cafe saja, maka kami diijinkan masuk.
(catatan : kalau tidak salah - seminggu berselang, ada berita pohon tumbang di KRB dan ada korban jiwa di sana. Jadi menurut saya, memang sebaiknya tidak memasuki area KRB pada saat atau sesudah hujan deras.... Thank God...)


Keluarga besar... luv u all... muach... muach...

Cafe ini dulunya dikenal dengan nama Cafe Dedaunan, namun entah bagaimana ceritanya, sekarang berganti nama, dan sepertinya belum "serius" mengelolanya, yang penting  pelayanan tidak mengecewakan dan tidak terlalu lama menunggu.
Makanan dan minumannya standar saja. Tapi okelah kalau untuk sekedar ngobrol entah berdua atau beramai-ramai, karena suasana restonya asik juga.


gadis penjual payung... hahaha...


Bagian depan cafe, bisa nongkrong outdoor juga



patung-patung setinggi manusia bagus-bagus











view yang bagus dari cafe









Taman Budaya Sentul, Bogor


 
Sebetulnya tujuan kami hari ini adalah Kebun Raya Bogor, karena kuatir bosan terlalu lama di KRB, iseng iseng saya brosing cari tempat main sekitar Bogor, targetnya Sentul City. Dapatlah Taman Budaya Sentul. Namun ulasan mengenai tempat ini di internet, tidak banyak. Foto foto juga tidak banyak, beberapa orang yang membuat ulasan, memuat foto yang "hampir" sama. 
Jadi, karena penasaran, kami mampir ke sana.


lapangan rumput yang luas




Lobby Taman Budaya


   




Papan petunjuk arena











Menurut saya, konsep "budaya" di taman ini, justru kurang begitu menonjol. Meskipun memang ada. Di taman ini ada fasilitas belajar membuat kerajinan tanah liat/keramik, penjualan batu perhiasan, penjualan batik dsb.







Belajar kerajinan tanah liat


Toko batik

Toko Batu Manikam


Angklung extra besar


Tamannya terawat cantik. Ada dua resto dan warung-warung kecil, cukup buat kita menikmati makan siang atau sekedar snack. Beberapa keluarga yang berkunjung di sana, saya lihat membawa makanan dari rumah dan disantap di bangku-bangku taman. 
Asik juga sih....



Foodcourt




Karena taman runputnya sangat luas ditambah dengan arena bermain anak-anak dan flying fox, sepertinya lebih cocok untuk acara family gathering, outing atau team building.




Becak mini dan sepeda disewakan




 



semacam "pintu masuk" menuju resto dan foodcourt

















Taman Budaya ini juga terhubung dengan  Hotel Neo Aston. Bagi yang tidak jeli, pasti merasa ragu-ragu untuk memasuki area hotel, padahal dari tempat parkir hotel, kita bisa jalan kaki ke area outbond taman budaya.


 

Dari area parkir hotel, Taman Budaya juga belum "kelihatan" karena posisinya di sebelah kiri setelah pintu masuk dan harus berjalan kira-kira 20 meter, barulah kita sampai di Taman Budaya.






Pintu Masuk Hotel Neo Aston, Taman Budaya bisa diakses dari sini