Sabtu, 02 Desember 2017

Tokyo City View & Sky Deck, Roppongi Hills, Tokyo, Japan


From 7am to 7pm, what to do in Tokyo, jilid - 4

Keluar dari stasiun Roppongi, hepi sekali saya, karena di depan pintu stasiun sudah tertulis jelas, Roppongi Hills dengan tanda panah ke kiri. 


Dan tidak jauh, saya sudah sampai di area sekitaran Mori Arts Museum, cuma 270 meter.






Yang pertama terlihat oleh saya adalah peta Roku Roku Plaza, alias Plaza 66.




Sebelum galau melanda, saya masuk ke department store. Cari toilet. Karena saya tidak "menguasai medan", alangkah bijaknya kalau saya mpis dulu daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 
Dan terbukti keputusan saya benar, karena antrian di Mori Arts Museum sangat panjang, sekitar satu jam saya berdiri dari tangga sampai loket penjualan tiket. 


Patung Pak Maman, penghuni tetap Roppongi Hills

Keluar dari toko saya perhatikan pergerakan orang. Tak disangka tak diduga saya lihat Roppongi Hills landmark, yaitu patung tarantula raksasa, yang dinamai Maman karya seorang seniman Perancis.




Saya pikir, berarti saya sudah berada di titik yang benar. Sekarang tinggal cari petunjuk Tokyo City View atau Mori Arts Center.


 Setelah foto sama pak Maman, saya lihat petunjuknya.



Sebelum ke Tokyo, saya sudah pelajari, sudah brosing-brosing, kira-kira saya "bisa" kemana saja. Apa yang mau dilihat. Lokasinya dimana tepatnya. Naik kereta apa. Stasiun apa. 
Saya utamakan spot yang tidak jauh dari stasiun kereta, sekali lagi karena semata-mata supaya efisien. Lebih bagus lagi kalau dalam waktu sesingkat ini bisa main ke sebanyak-banyaknya spot. Hahaha... maruk banget..
Nah, waktu itu pilihan saya ada dua, yaitu ke Odaiba dan Roponggi Hills. Nyatanya hati saya pilih Roppongi Hills.


Penampakan pintu masuk


Berdasarkan hasil brosing-brosing, untuk menikmati Tokyo skyline atau melihat Tokyo dari ketinggian, tidak hanya dari Tokyo City View ini saja.

Ada Tokyo Skytree. Ada juga Tokyo Metropolitan Building, namun sepengetahuan saya kedua tempat ini observation deck-nya tertutup. Artinya jika kita foto di siang hari, maka hanya akan terlihat siluet badan kita, karena cahaya dari luar lebih kuat. Jika foto di malam hari, biasanya hasilnya lebih banyak pantulan cahaya lampu di kacanya, dan sedikit tertangkap viewnya. Tapi ini pengalaman saya dengan kamera handphone ya.. Hasilnya tentu berbeda jika pakai kamera yang lebih "serius".


Menikmati antrian menuju loket tiket, perhatikan jalur antrinya

Nah, di Mori Arts Center ini, observation deck-nya terbuka. Lebih asik-lah menurut saya. Hanya saja, sayangnya dari tepian "pagarnya" masih terlihat pipa-pipa dan besi-besi instalasinya gedung, sedikit "mengganggu" keindahahan pemandangan. Lama-lama saya pikir, oh iya.. mungkin pengelolanya kuatir tempat ini dipakai buat bunuh diri... Mungkin ya... 

Tokyo Tower warna merah di kejauhan

 Satu lagi, menurut saya, tempat ini terkesan agak dipaksakan untuk dijadikan tourist spot, karena akses menuju deck-nya, saat kita sudah berada di lantai paling atas, kita akan melewati semacam instalasi pendingin udara, sepertinya, karena banyak ducting disitu. 


 Untuk alasan keamanan, tongsis maupun tripod dilarang. Disediakan locker dengan coin untuk menyimpan barang bawaan kita.



Observation deck-nya tidak crowded, memang bukan favorite turis sih ya, dan jarang dibahas di blog-blog orang, salah satunya mungkin karena tiketnya mahal, yaotu JPY 1800 atau sekitar Rp. 220.000. Lagipula ke Roppongi tidak banyak yang bisa kita jelajahi, selain sky deck ini. Kecuali kalau kita adalah "penggiat malam" yang betah melek sampai pagi. 



Informasi detail mengenai tempat ini bisa diakses di Roppongi_Hills 

Silahkan check  video singkat di roof top ini 



Tapi secara keseluruhan tempat ini ok, selain observation deck-nya, pengunjung juga banyak yang datang untuk pameran seni. Ada cafenya juga. Tiket Tokyo City View sudah termasuk biaya ke Mori Arts Museum. Jadi untuk saya, nilai dua ratus ribu ini masih tergolong wajar.




Hari ini sedang dipamerkan karya seniman Joana Vasconcelos dan  seniman Indonesia, Heri Dono... Kerennn.... Hehe.. 
Mengenal seniman Heri Dono

Berikut beberapa gambar tentang pameran seni di Mori Art Museum








Video di salah satu ruangan pameran, maaf kusem videonya, hapenya ga mampu soalnya... hahaha...



Pameran perhiasan Bvlgari 















Menjelang gelap, suasananya lebih asik, viewnya juga cantik



Teman baru ketemu saat antri tiket, si mas orang jakarta
Saat antri tiket, saya lihat seseorang berwajah melayu, setelah terlihat oleh saya penampakan KTP biru... haiyaaa... ternyata orang tanah air. Akhirnya saya tegur dan berkenalan. Berteman hanya dalam waktu 2 jam. Beruntung saya, karena foto yang diambil sama si mas, pada bagus. Makasih ya mas...

Sekitar jam 7 malam, saya meninggalkan Roponggi Hills, naik Hibiya Line lagi, turun di Ebisu Station, lanjut dengan Yamanote Line turun di Osaki station, dan kembali ke New Otani Inn ambil koper, trus beli makan dan susu di Seven Eleven, lanjut lagi ke bandara Haneda. Waktunya pulang kampung....

Mata Aimashou Tokyoooo...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar